Semalam diskusi di Gubuk Kita Community (Aula Annora Media Group) cukup seru. Kehadiran Mas Iman Budhi Santosa yg saya undang scara pribadi cukup mampu merebut konsentrasi kawan-kawan ketika bicara soal urgensi sudut pandang (perspektif) dalam memandang banyak problem sosial. Yg asyik sebab diskusi ini diikuti oleh kawan-kawan dri usia yg berfariasi. Mulai dari umur 18 thn anak-anak SMSR, Tono dkk, hingga usia menengah, teman-teman mahasiswa semester 3-5 bahkan hingga taraf penyelesaian. Ada juga beberapa diantara mereka yg pos graduate dll. Menariknya, sebab kami semua tidak bisa hanya menuruti ego masing-masing dalam berdebat dan meninggalkan adik-adik yg masih SMA itu sebagai penonton dan gak ngerti apa-apa dari apa yg kami perdebatkan. Sehingga dalam suasana yg demikian, kami harus berusaha untuk saling menampung dan menabur cinta lebih karena kami semua adalah manusia..sebagaimana peribahasa Menado, manusia yg baik adalah manusia yg mampu memanusiakan manusia yg lain. Bagi yg ingin mendapatkan ringkasan diskusi semalam, silahkan gabung ke FB Gubuk Kita Community, disana semuanya telah disiapkan. Slm, moga dri Gubuk Kita Community akan hadir ide-ide, gagasan dan gerak-gerak yg alternatif...!!!
Welcome
Rabu, 10 Desember 2014
Selasa, 09 Desember 2014
Orang Indonesia dgn Memori Pendek !!
Jamah fesbuk rahimakumullah...orang Indonesia memorinya pendek-pendek...isunya gampang dibelokin...kayak sapi yg digembalakan oleh banyak isu kesana kemari...jadi dgn gampang kapitalisme global memperdayanya, menyumpal mulut dan membutakan matanya dgn banyak isu...setelah gempa....muncul isu Miyabi, abis miyabi nabi palsu, stelah itu muncul pink Nabi Muhammad....semua isu mau ditanggapi dan diselesaikan....hehehe...lucu...
Hayy...jamaah sekalian...kita ini sedang main bola dgn jamaah kapitalisme global...jngan terkeco dgn bola-bola panjang, bola-bola pendek...jangan terbawa dgn permainan cantik mereka yg seolah lebih faer bermain...padahal diam-diam waktumu telah dihabisi hanya untuk memainkn bola secantik mungkin tanpa kmu pernah dapat membuat goll...jdi untuk apa melayani permainnan itu...
Tunggu sajalah...sebntr lagi akan ada isu baru...mungkin selingkuh para pejabat...ato mungkin Miyabi masuk Islam mungkin...atau apapun...berjagalah selagi dadamu masih berdegup...!!!
Tertanda:
Deng Bustan Basir Maras.
Sekilas mengenal Mandar-Majene, dan beberapa objek budayanya, salah satunya Peppio yg sedang saya riset !!
Letak geografis Kabupaten Majene dengan Ibu Kota Majene berada sekitar -+ 320 Km dari Kota Makassar, terletak di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan, dengan batasan wilayah: sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Mamuju, sebelah timur dengan Kabupaten Polmas, sebelah selatan dengan Teluk Mandar dan sebelah barat dengan Teluk Makassar. Topografi Kabupaten Majene pada umumnya merupakan wilayah pantai, dengan panjang garis pantai mencapai 125 Km. Sementara kualifikasi kemiringan tanah secara keseluruhan relatif miring dengan prosentase wilayah yang mengalami erosi sebesar 3,41% dari luas wilayah kabupaten.
Majene tentu memiliki alam yang indah, antara lain:
• Pemandian Air Panas Limboro. Lokasinya berada di atas puncak pegunungan Limboro dengan udaranya yang sejuk, pemandangan alam indah dengan tanaman kemiri dan kakao yang mengitarinya.
• Sandeq. Perahu layar tercepat di dunia ini memiliki keunikan tersendiri. Selain digunakan untuk menangkap ikan, juga diperlombakan setiap tahunnya untuk menggiatkan wisata bahari.
• Pantai Pasir Putih Rangas. Pantai ini menjorok ke laut, tempat pembuatan perahu tradisional (Sandeq). Pantai ini terletak di kelurahan Totoli, + 5 Km dari ibu kota kabupaten Majene.
Pantai Dato’. Pantai dengan panorama laut yang sangat menarik, disekeliling pantai ini terdapat tebing yang dapat digunakan sebagai sarana climbing.
Beberapa situs dan upacara:
Museum Mandar. Sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah. Baik di tingkat Kab. Majene, juga Mandar secara keseluruhan.
• Sandeq Race. Sandeq Race secara umum, biasanya dilombakan setiap memperingati HUT. Proklamasi RI di Kabupaten Majene.
Kompleks Makam Raja-raja dan Anggota Adat. Berada pada ketinggian + 50 meter di atas permukaan air laut. Para wisatawan dapat menyaksikan keindahan kota Majene dari ketinggian ini.
• Upacara Pa’bandangang Manu-manu’. Upacara ini biasanya dilakasanakan oleh masyarakat Kajuangin, Kec. Malunda, Kab. Majene. Upacara ini biasanya dilaksanakan pasca panen, sebagai upaya menolak balaq.
• Makam Syech Abdul Mannan. Syekh Abdul Mannan dikenal sebagai penyiar agama Islam pertama di Kabupaten Majene.
Lain-lain:
a. Wisata Belanja
• Sarung Sutra Mandar. Pertenunan sutera juga tetap berkembang di Kab. Majene. Ciri khas yang sangat menonjol pada produk ini adalah proses pembuatan dan motif yang mencerminkan budaya dari penduduk asli Mandar. Rasanya belum lengkap menginjakkan kaki di Mandar-Majene, jika tak membawa pulang sarung sutra Mandar (Saqbe).
b. Wisata Pertunjukan
• Tari Pa’jinang. Tari Pa’jinang adalah salah satu bagian upacara pemujaan kepada dewata untuk meminta perlindungan dari berbagai bencana. Selain itu Tari Pa’jinang ini juga sering digunakan pada upacara untuk mengobati orang sakit. Pelaksanaan upacara diadakan pada sore hari saat matahari akan terbenam.
• Tari Dego’. Tari Pa’dego biasa dilakukan untuk mengiringi atau mangantar Kuda Pattu’du atau rombongan Pengantin Pria menuju rumah mempelai wanita yang diiringi dengan musik rebana. Tarian ini dilakonkan oleh 5 orang pria.
• Tarian Paka’daro. Tanah Mandar terkenal pula sebagai daerah penghasil kelapa, dari ispirasi itulah tercipta sebuah tarian yang menggunakan tempurung/batok kelapa, yang disebut Tari Pakka’daro.
Bustan Memprofilkan Mandar dalam Kumpulan Cerpen
PADA forum Bincang-bincang Sastra edisi ke-56, diluncurkan buku Ziarah Mandar karya Bustan Basir Maras, di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (23/5). Buku berisi 16 judul Cerpen ini, 40 persen berbicara tentang Mandar Sulawesi Barat. Acara ini diramaikan Musik Komunitas Rumah Mandar dan pembacaan cerpen Ziarah Mandar oleh Hari Leo.
"Saya tidak merasa merumuskan diri menjadi seorang sastrawan atau segala yang ditulis ini sebagai sebuah karya sastra (cerpen dan puisi). Semua itu adalah hak setiap pembacanya untuk mengapresiasi dan merumuskan sebagai cerpen, catatan perjalanan, teriakan seorang demonstran, atau khayalan manusia yang putus asa. Menurut saya itu wajar, apalagi di dunia sastra," ujar Bustan yang telah 10 tahun menulis sastra.
Baginya, cerpen atau puisi adalah dunia yang sublim dan bisa menjadi tempat untuk berekspresi berbagai rupa. Jika hal ini dilakukan maka akan membebaskan para penulis dan sastra Indonesia dari proses pengkeroposan. Berekspresi pun bisa datang dari beragam hal yang dirasakan penulis terhadap sekitarnya.
Ini tidak lepas dari masalah yang dialami setiap orang, baik di tingkat personal atau sosial. Dalam buku ini, Bustan melihat Mandar yang begitu dimarginalkan sejak merdeka hingga sekarang. Bagaimana keadaan tempat ia dilahirkan, meskipun dibesarkan di Yogya. Jika di Yogya banyak akses transportasi ke kota lainnya, tapi di Mandar sebaliknya. Masih banyak jembatan dari pohon kelapa dan jalan berupa tanah becek. Kondisi seperti ini mungkin hanya ditemukan di Mandar dan Papua.
"Karena itulah, saya tidak bisa menulis sajak cinta sementara masih banyak orang kelaparan. Itulah alasan sebenarnya kenapa buku ini berjudul Ziarah Mandar. Selain itu, meski sebagian bercerita tentang Jawa," katanya. (*-3) -k
Langganan:
Komentar (Atom)








