Welcome
Selamat Datang Di Website Personal Bustan Basir Maras
  • Faceblog Evolutions

    Saat Di Uwake' Cultur Foundation !

  • Faceblog Evolutions

    Baca Puisi saat Penggalangan Dana Untuk Palestina.

  • Faceblog Evolutions

    Bedah Buku Taman Budaya Yogyakarta.

  • Faceblog Evolutions

    Saat Riset di Kab. Mamasa Sulbar, di depan makam Parengnge Messawa.

  • Faceblog Evolutions

    Baca Puisi di fort Rotterdam Makassar, Sastra Kepulauan

Puisi




Puisi Bustan Basir Maras

Di Pantai Majene


lalulalang nelayan di dermaga kayu yang ringkih
bersekukuh pada ombak yang setia menamparnya berkali

angin dan camar hinggap  di layar perahu Sandeq
meraup rindu dan syukur orang-orang laut Mandar
meniup seruling cinta, hingga sesak seluruh isi dada

maka di sini Mandar-Majene yang ramah
takzim menyambut tetamu yang datang, mengamini nelayan
yang berangkat menaklukkan laut di pagi buta
mendendangkan albarzanji pada badai, yang datang memukul lekuk pantai
seperti bibir gadis pantai Majene, berembun senyum.

/Majene, 05-12



Bulan Pulang

kupulang, ketika bulan hanya separuh
di langit kelam malamku
di barat, kulihat garis pantai membujur
menawar cerita tentang laut yang damai
yang sunyi dari badai dan prahara.

: tetapi bulan di Mandar-Majene
kulihat tak begitu. bulan selalu dekat
mendekap bayi yang merindu.

/05-12


Kasihku di Laut

ombak tak tau henti, selalu dan pulang selalu
ke pantai, ketika rindu dilabuhkan
ketika cinta terisak, merajut rindu bertahun-tahun

kasihku, inilah bulir-bulir pasir yang melahirkanku-menjagaku
dari amuk gelisah, dan juga cinta yang tak pasti

lekaslah ke pantai yang damai dan teduhkan dirimu
di kaki gunung-gunung hijau, dilingkupi seribu pinus dan cemara
:layar dan sampan-sampan rindu para nelayan, setiap waktu
datang merebut kenangan, sebagaimana genggaman tangan kita
rekatkan ! hingga rindu dan dada kita jadi temaram.

/Makassar, 2012


Kemarau Anjing Melolong

seperti dimana-mana, aku selalu saja
tak bisa damai dengan kemarau

kudengar dari gang-gang jiwamu, anjing malam terus melolong
menyalak ke langit kosong, adakah rinduku tercecer di mulut gang
lalu diperebutkan anjing-anjing itu?

sembilan malam aku diremuk kemarau 
tetapi seperti terus berlari pergi
atau rindukah aku lagi?

tetapi inilah aku yang naif
tak pernah bertanya mengapa aku bertanya

malam di dalam kamar sendiri aku memeram rindu
di luar kamar hidupku tak jelas.

/2012


Gadis Tanah Merah

sore. kusilet senja, tapi kabut juga datang
mendekapku-mendekatku, di sini.

melintasi lembah, tanah merah mengancam seperti darah
kakikaki perempuan, perlahan menatap tanah basah
rambutnya memerah, pipinya merah, bibirnya merah
ah, aku jadi kanak lagi dibuatnya.

ke Tanah Merah, aku tiba lagi di sini
mengejar kabut putih, menagkupnya ke dalam cawan rindu.

/Mamuju, 2012

Antara Hutan, Antara Lembah

berdiri aku saat itu
tiba-tiba saja, kulihat
daun-daun berguguran ke tanah
pohon-pohon ranggas melambai
ranting-ranting terpelanting ke tanah
aku menggigil, aku takut
aku kedinginan, aku?

di garis lengkung langit
di barat, kulihat mendung
menggulung merayapi lembah
ingin, ingin aku berlari tapi kemana?
oh, angin datang merajam,
Tuhan, apakah akan kau kirimkan lagi
ombak yang berguglung-gulung
lalu orang-orang berteriak
“tsunami…..tsunami…tsunami…!!”
lalu rumah-rumah, pasar-pasar,
perahu-perahu nelayan, toko, kios-kios,
rumah-rumah pelacuran, masjid-masjid,
tiba-tiba bergulung-gulung menyapu negeriku
dan anak-anak terkapar tergulung
dan tak bisa lagi menagis. Mati !

/Mekkatta, 04-12



Sajak Untuk Istriku

Istriku, sungguh tak tertahankan segala resah ini. Aku pergi mengembara melintasi kota-kota, hutan dan lembah-lembah hijau. Aku ingin kau hadir dalam deru kereta yang  membawaku serta pergi, menyaksikan anak-anak  kampung yang kulewati bermain di pematang-pematang sawah dan rawa payau.

Suatu  ketika, kuingin pula pergi menyebrangi hutan-hutan, sungai-sungai, kebun-kebun liar, menyingkap makna air atau mungkin embun di bulir-bulir padi di pagi buta, sebelum para petani dan burung pipit menjegal langkah kita di pematang.
Aku ingin menuntunmu di pematang ketika fajar mengelupas dari balik bukit-bukit hijau rindu. Memeram rindu dendam di kecipak air, di kali waktu di halaman belakang rumah kita yang mungil, dan angsa-angsa juga kelinci piaraanmu yang lucu-lucu berlarian diantara kita.

Saat itu anak kita masih satu. Aku tau anak kita lahir dari petualangan senja dan fajar pagi, bergeliat di antara gegas malam yang memburu subuh, domba dan kambing kampung orang-orang Mandar dan juga di pedalaman Tanah Jawa.
Sekali waktu, aku ingin mengajak kalian pergi, membelah sawah-sawah menguning yang lahir dari kehijauan kaki-kaki bukit, mengitari Merapi dan Merbabu di kejauhan, memintal waktu di jenjang leher gunung Lawu dan Wilis. Uh, alangkah menggelitik waktu yang rambat di kali waktu.

Dari dalam kereta yang berangkat dari stasiun fajar pagi, kita melintasi pagi cerah, daun-daun dan bunga-bunga masih mengatupkan kelopaknya. Tapi kita telah membukanya dengan mata telanjang dan rindu yang tak sudah-sudah.
Dari balik jendela kereta, kita menggambar horison di cakrawala, anak kita riang bermain di antara kursi para penumpang yang ngorok sepanjang jalan, mengalahkan deru kereta itu sendiri. Anak kita berlari dari ujung gerbong ke ujung yang lain. Betapa ia bahagia, matanya menyala bagai api di peraduan para pencinta yang berduaan di malam buta yang dinginnya mengiris sum-sum.

Percayalah sayang, hari itu kan tiba karena cinta Tuhan yang maha pencinta yang merelakan kita menghabiskan kantuk di cafe kereta, memintal ngantuk  jadi mimpi dan rindu segera kita bayarkan. Kau menyukai orange  jus, sedang aku akan menghabiskan bercangkir-cangkir putih kopi Arabika atau juga kopi  Toraja yang ditanam di dingin cuaca orang-orang Hulu Sungai Sadang di Tanah nenek moyang orang-orang Bugis-Makassar, Mandar dan Toraja sendiri.  Tak hanya itu, diantara pentilasi gerbong kereta “Smooking Area”  itu, kuhabiskan berbatang-batang tembakau Kudus, Temanggung, hingga Tembakau Skoal buatan Eropa. Begitulah kita menghabiskan percintaan melebihi kehangatan pengantin di malam buta. Semoga itu bukan mimpi sayang.

Masih kuingat, di stasiun tua kota tempat kita memeram nasib dan rindu, kau mengantarku, melipat beribu kenangan ke dalm koper dan ransel, agar kujadikan pisau, pedang dan cangkul bagi masa depan kita yang rabun. Tapi kau tetap kokoh batu karang di lepas pantai. Kau adalah danau tak bergeming, senyummu adalah teratai yang tak pernah jenuh di mulut danau, memberi hiburan dan harapan bagi siapa saja yang rindu akan cinta. Kau adalah teratai, kau bunga ganggangtapi kau pula danau itu. Sekali waktu aku pernah kedinginan bagai salju di tepi danau itu. Lalu tanganmu yang lahir dari peraduan cinta dengan segala kehangatannya, mencairkan batu salju itu dan kita berlarian diantara pinus dan terkapar di rerumputan basah, sebasah mulutmu yang melumatku dan anak kita kegirangan menyaksikannya.
Ah, begitu banyak yang harus kucatatkan diantara deru dan lengking peluit kereta ini. namun apalah yang kubisa. Semoga sayang. Indah !

/Jogja-Surabaya, Argowilis, 23 Juli 2012. 


Bunaken

di lekuk pantai tubuhmu menggeliat dipukul ombak
di leher jenjang pepasirmu, ah, aku mabuk, kan kuhisap madu cinta
gairah di matamu dan di sepanjang hamparan lekuk tubuhmu, mengalahkan usia
tapi kapankah kan kutiba lagi di situ. Mendekatlah, dekatkanlah !
“betapa sulit aku mengungkap segala puji dan resah desah darimu.
betapa usia tak lagi bicara atas segala sajak cinta !” demikian lirihmu.
sayang,  kan kucoba berjalan ke arahmu, mendekat, walau sulit pasti kutempuh
tunggulah, sampai kusiapkan segalaku

percayalah. usia hanyalah kata usang di langit kata, lantaran kutahu,
perjumpaan kita telah menyulam tahun-tahun ke dalam kesunyian,
melebihi kesunyian itu sendiri. Percayalah, aku telah melihatmu,
berjalan ke arahku, dalam sulaman tahun-tahun yang kelam,
dan kaupun menggenapkan segalanya.

Mendekatlah ! lantaran kutakut,  aku takut, dera cinta ini usai
sebelum akhirnya tertambat di lekuk panjang pantaimu, meresapkan kata cinta
yang kecut diantara pepasir. maka kan kutetapkan langkah ini. 
bersabarlah, aku akan tetap berjalan mendekat-mendekapmu
jangan akhiri.  Jangan akhiri, meski kelak kan sirna segalaku.

maka eratkanlah pegangan.  Kan kukirim sejuta doa cinta di udara
dalam gelombang asmara yang sama. Bersiaplah. Berjalanlah di balik senja
kudoakan kau. Kudoakan kau,  agar segera tertambat padaku.

/05/11


Percakapan Dua Nelayan, Menjelang Subuh di Laut

kelam menjauh, gairah terus melecut dada
pekat malam adalah kawan dan lawan
pada gelap membelam, meretak

“Mari berlayar !”
ini saatnya kan tiba, menaklukkan bulan dan malam
menyilet laut, membasuh wajah
biar letih dan peluh, juga darah terguyur serta
katamu pada seperempat malam

lalu kita berangkat
menyusur jalan ke laut, menggeliat
di bawah pohon-pohon rindang
: nyiur masih setia menunggu pantai
menunggu saat-saat khikmat berlayar

lalu malam kian menipis, maka kusiapkan-kulengkapkan
segala yang mesti bersatu-menyatu, segala
yang mesti dibaca, sebagai mantra pelayaran

laut rupanya tak surut, perahu layar kita rapatkan
ke bibir laut, mencium lidah-lidah ombak
yang terus menyapa, menguruk kaki kita bagai pesakitan

“Mengapa pelayaran mesti dimulai
dari tepi ke tengah? Mengapa tidak dari tengah ke tepi?”  tanyaku

“Karena ombak tak pernah berangkat
dari tepi ke tengah, tetapi bergolak menggulung dari tengah
menghempas-terbiar di tepi !” jawabmu

perlahan, pelayaran kian jauh ke samudra
pagi hampir tiba bersampan wajah laut, riang  air beriak
menjilat-jilat dada perahu, meski tak oleng
kita berpegang di layar dan terus berlayar

lihatlah, ada bintang mendekat, mendekap
hampir ke pangkuan bulan, redup, samar cahaya membias
di wajah laut dan matahari pun membelai wajah pecinta

sambil melipat layar, perlahan ikan-ikan tiba di sini
di sekitar, lalu kau lemparkan kail dan jala
ikan-ikan berloncatan, hingga perahu oleng dibuatnya

“Sudahlah ! mari pulang, hari hampir siang
ikan-ikan mesti dipanggang dan dinikmati !” katamu lugu

“Jadi ikan dijala dan dipancing hanya sesuai kebutuhan.
Tidak boleh lebih?” tanyaku.
“Ya !”  jawabmu singkat

/Makassar, Juli/05-11


Good By Soungkhla
(:Muh. Haris Kayem, Jupanejohn,
Wanida Tehlong dan kawan-kawan Thai Poet Society)

waktu-waktu mengelupas tangkainya,
memburu hari dan malam serupa ikan-ikan laut.
menyelam dan berkejaran di riak rindu yang tak padam, tak usai.

tak kutahu dari mana lahirnya nasib dan garis tangan.
sehingga begitu saja kita jumpa dalam dada yang lapang.
ruang dan waktu pergi menjauh. membuang angka-angka
yang sekali waktu kita letakkan di pundak dan dada kita, sehingga langit pun
tak sanggup memandangnya, dan kita berjalan dengan dada membusung.

tetapi hari ini, kita telah membuang seluruh angka-angka itu
ke dalam tong-tong sampah di sepanjang jalan Vudu Raya Kuala Lumpur.
kita beramai-ramai merobohkan berhala diri sendiri, kita hancurkan,
lalu kita tandaskan di jalan-jalan menuju KL centre, agar para pelancong mengerti
tentang diri yang tak ada apanya ini.

kini tinggal rindu dan cinta yang tersisa dan kita selipkan di antara helai pasport,
agar petugas imigrasi mengurutkannya dari halaman ke halaman,
dan akan menemukan cinta yang terselip diantaranya.

maka langit pun membelah diri. meneteskan airmatanya
membentuk kristal-kristal gerimis di balik jendela. akupun tertunduk sejenak,
menatap garis tangan: disana, kulihat peta buta dalam diriku
yang hanya setitik debu yang lengket di daun-daun waktu,
lantaran angin keagungannya menerbangkanku
kemana saja ia ingini untuk para perindu.

maka di malam yang pucat pasih begini, kita berjanji pada diri yang sepi
sambil berjalan-jalan diantara lampu-lampu kota yang tak pernah padam
memberi sejumput harapan diantara riuh rendahnya kota dan tatapan kosong
orang-orang yang sedang berbincang di cafe dan restoran-restoran jiwa.

malam beranjak sejenak ke pagi, ketika kita melangkah menuju rumah bulan
di sana kita bercengkrama dalam kerenyahan percakapan bintang-bintang
sambil sesekali menenggak nescafe yang mulai mendingin, lantaran malam
menuntunnya hampir ke pagi. dan kita pun sejenak terkapar-bermipi.

malam masih letih ketika perlahan sawah-sawah mulai membentang depan mata
pohon-pohon karet tumbuh berbaris menyambut pagi, dan kita dengan segala
sisa kantuk yang terus membentur-benturkan dirinya ke dalam mata yang merah
menatap jauh ke depan, membisikkan rindu ke dalam dada yang sepi.

sesosok patung Budha masih saja terdiam ketika kita melintas di hadapannya
daun-daun berguguran membangun hidup, hujan pun tak henti membisikkan rindu
dan mengantarkan kita bersembunyi di sebuah restoran sambil menggigit roti kosong.

“Well come to Songkhla, Well come to Hatyai, Well come to Thailand !!”: katamu.
dan saat itu, kulihat burung-burung terbang meninggalkan sarangnya
cacing-cacing tanah merambat keluar mencari kehangatan mentari dan ikan-ikan pun
berenang mengitari danau, mencari rindu dan cinta yang datang bersama pagi.

menyusur jalan-jalan di Hatyai, merenungi perjalanan Budha di Soungkung
bercengkarama kita dengan para biksu yang setia menatap tanah dan langit
lantaran rindu dan cinta bagi kekasih sejati yang dicarinya bertahun-tahun
di padang-padang sunyi, dalam kembara kerinduan yang tak padam-padam.

Soungkhla, di sini malam-malam kutelan bersama cinta dan candu
dalam rahim waktu dan hari-hari telah kuletakkan sajak-sajak cintaku
agar malam-malam dan rindu dendam, membuahinya di jagad raya
maka inilah sajak-sajak rindu dan luka yang kutitipkan pada kawan
yang berangkat menuju pagi ke Naratiwa dan Bangkok.

oh, inilah sajak-sajak luka, hasrat yang tak padam tak terbayarkan
malam, oh, malam, menyerahlah berjalanlah lunglai
agar hasrat tak menggila lagi, agar rindu memeluk rindu yang sejati.

kawan, lihatlah bintang-bintang datang menghambur malam
wajah kota jadi temaram. lampu-lampu menyala lagi
dan perempuan malam kini berbaris lagi di kaca-kaca jendela
menghisap tembakau Turki dan Thailand, sambil mengecup kening malam
yang turun membenamkan cahaya, membenamkan kesejatian.
dan kita pun berjalan menyusur gang-gang sempit, menyelinap diantara klakson senja
dan juga denting piring, sendok dan gelas yang saling beradu
di restoran-restoran magrib, sebelum akhirnya kita berpisah di jalan pulang
menuju Kuala Lumpur dan Singapur.

“Good by Songkhla !!” kataku
“Good by !” jawabmu. “Nice to meet you, seeu you next time !” kataku.

dan akupun berjalan ke dalam rintih malam
gerimis mengurung kota. akupun tertunduk sejenak, membaca garis tangan
melancong ke dalam diri sendiri, memaknai peta buta kehidupan
membaca setiap petunjuk di persimpangan jalan menujunya
maka rindu pun membuncah, malam-malam tertunduk diam
kekasih sejati, kekasih sejati. terimalah ini cinta !

/Hatyai-Soungkhla, Thailand/12.



Kupu-kupu di Makam Bang Ali
: kawan flamboyant

kami anak-anakmu yang melancong tanpa peta,
kini datang mencari alamat rumahmu yang abadi.
Meski kami tahu rumah-rumah kehidupan yang kau titipkan di sini,
adalah jembatan cintamu menuju kekasih yang maha kekasih.

tak ada hadiah istimewa dari tanah Mandar yang kami bawa,
kecuali bahasa cinta dan rindu yang kau selipkan di telinga kami
bahwa kecapi dan seruling, hanyalah penanda dan bukan tujuan.
Sebab kecapi, seruling, gendang dan calong hanyalah perahu cinta
yang bakal melayarkan rindu para pecinta bagi kekasih sejati.

maka dalam dekap malam yang ringkih. jauh di negeri timur matahari,
tanah Mandar Tipalayo, sebelum kaki kami yang polos menapak tanah Jawa
telah kami kirim seekor kupu-kupu, mengabarkan rindu padamu
agar tak kehilangan arah dan alamat cinta, menuju rumahmu yang indah,
sebagaimana dirimu yang tak ingin begitu lama tak mencecap keindahannya.

maka tanah-tanah pun merekah, daun-daun berguguran, gerimis tipis dan hujan rindu
datang menghambur, mendendangkan shalawat rosul sang kekasih, dan kulihat
kau sedang berpegang erat di jubah itu. Kutahu itu tak mungkin kau lepaskan
tetapi tunjukkanlah pula peta dan alamat rindu itu kepada kami
agar kelak, jika masanya tiba, dapat juga mengecup juba sang kekasi itu
dengan rela dan direlakannya.

maka seusai doa-doa, kupu-kupu menabur bunga di halaman ruamahmu yang rindang,
taman-taman penuh bunga, ditingkahi gemercik air di kali waktu yang terus menerus
mengalir ke arahmu, dan bulan pun cemburu, pejal menggigil di langit malam
lantaran kupu-kupu telah menjelma menjadi bidadari, menghiasi rumah cintamu.
maka terimalah itu cintanya, lantaran itulah buih dari doa-doamu
dan malam pun berhamburan di angkasa, kami pun beranjak pulang.
dalam selimut malam kau mendengkur kembali dalam hangat peluk kasihmu.
damailah, lantaran itulah buah cinta dan rindumu yang sejati !


/Krapyak-Jogja/12


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By NoorMashimoto