PADA forum Bincang-bincang Sastra edisi ke-56, diluncurkan buku Ziarah Mandar karya Bustan Basir Maras, di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (23/5). Buku berisi 16 judul Cerpen ini, 40 persen berbicara tentang Mandar Sulawesi Barat. Acara ini diramaikan Musik Komunitas Rumah Mandar dan pembacaan cerpen Ziarah Mandar oleh Hari Leo.
"Saya tidak merasa merumuskan diri menjadi seorang sastrawan atau segala yang ditulis ini sebagai sebuah karya sastra (cerpen dan puisi). Semua itu adalah hak setiap pembacanya untuk mengapresiasi dan merumuskan sebagai cerpen, catatan perjalanan, teriakan seorang demonstran, atau khayalan manusia yang putus asa. Menurut saya itu wajar, apalagi di dunia sastra," ujar Bustan yang telah 10 tahun menulis sastra.
Baginya, cerpen atau puisi adalah dunia yang sublim dan bisa menjadi tempat untuk berekspresi berbagai rupa. Jika hal ini dilakukan maka akan membebaskan para penulis dan sastra Indonesia dari proses pengkeroposan. Berekspresi pun bisa datang dari beragam hal yang dirasakan penulis terhadap sekitarnya.
Ini tidak lepas dari masalah yang dialami setiap orang, baik di tingkat personal atau sosial. Dalam buku ini, Bustan melihat Mandar yang begitu dimarginalkan sejak merdeka hingga sekarang. Bagaimana keadaan tempat ia dilahirkan, meskipun dibesarkan di Yogya. Jika di Yogya banyak akses transportasi ke kota lainnya, tapi di Mandar sebaliknya. Masih banyak jembatan dari pohon kelapa dan jalan berupa tanah becek. Kondisi seperti ini mungkin hanya ditemukan di Mandar dan Papua.
"Karena itulah, saya tidak bisa menulis sajak cinta sementara masih banyak orang kelaparan. Itulah alasan sebenarnya kenapa buku ini berjudul Ziarah Mandar. Selain itu, meski sebagian bercerita tentang Jawa," katanya. (*-3) -k






Tidak ada komentar:
Posting Komentar